Senin, 13 Februari 2012

MUHAMMAD PROPHET FOR OUR TIME

Review Buku
Oleh : Asep Saiful Zulfikar (Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Suka)
MUHAMMAD PROPHET FOR OUR TIME
(Karen Armstrong)
A.  Biografi Penulis
Karen Armstrong ia dilahirkan 14 November 1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris) adalah seorang pengarang, feminis dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham.
Dari 1962 hingga 1969, Karen Armstrong menjadi seorang biarawati dari Ordo Society of the Holy Child Jesus. Ini adalah ordo pengajaran, dan setelah ia melewati masa-masa sebagai postulan dan novisiat hingga mengucapkan kaulnya sebagai biarawati, ia dikirim ke St Anne's College, Universitas Oxford. Di sana ia belajar sastra dan sejarah Inggris. Armstrong meninggalkan ordonya pada waktu studinya. Setelah lulus ia masuk ke program doktoral (tetap di Oxford) tentang Alfred, Lord Tennyson. Ia melanjutkan studinya ini sementara kemudian mengajar di Universitas London, tetapi tesisnya ditolak oleh seorang penguji luar. Akhirnya ia meninggalkan akademia tanpa menyelesaikan studi doktornya.
Pada masa ini kesehatan Armstrong memburuk (Armstrong sejak kecil telah menderita epilepsi, namun pada waktu itu belum didiagnosis, seperti digambarkannya dalam bukunya The Spiral Staircase (2004)) dan setelah penyesuaian dirinya kembali dengan kehidupan di masyarakat luas. Pada 1976, ia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah perempuan di Dulwich, tetapi epilepsinya membuat ia terlalu banyak absen, sehingga ia diberhentikan pada 1981.
Armstrong menerbitkan Through the Narrow Gate pada 1982, yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara (dan menyebabkan ia banyak dimusuhi oleh orang-orang Katolik Britania). Pada 1984 ia diminta menulis dan menyajikan sebuah dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Penelitian untuk dokumenter ini membuat Armstrong kembali menyelidiki agama, meskipun sebelumnya ia telah meninggalkan ibadah keagamaan setelah ia keluar dari biara. Sejak itu ia menjadi penulis yang produktif, banyak dipuji dan dikritik dalam topik-topik yang menyangkut ketiga agama monoteistik. Pada 1999, Pusat Islam California Selatan menghormati Armstrong, atas usahanya "mempromosikan saling pengertian antara agama-agama."
Armstrong mengajukan teori tentang fundamentalisme agama, yang penting dalam memahami gerakan-gerakan ini yang muncul pada akhir abad ke-15 dan abad ke-20. Yang sentral bagi penafsirannya tentang sejarah adalah pemahaman bahwa budaya-budaya pra-modern memiliki dua cara berpikir yang saling melengkapi dan saling membutuhkan, berbicara dan mengetahui: mitos dan logos. Mitos berkaitan dengan makna; ia "memberikan orang sebuah konteks yang membuat kehidupan mereka sehari-hari masuk akal (=makes sense). Mitos mengarahkan perhatian mereka kepada yang kekal dan yang universal." Logos, sebaliknya, berkaitan dengan masalah-masalah praktis. Ia menempa, menguraikan pemahaman-pemahaman (=insight) lama, menguasai lingkungan, dan menciptakan hal-hal yang baru dan segar. Armstrong berpendapat bahwa masyarakat Barat modern telah kehilangan pemahaman tentang mitos dan menobatkan logos sebagai dasarnya. Narasi mitis dan ritual serta makna-makna yang terkait kepadanya telah kehilangan otoritas dibandingkan dengan apa yang rasional, pragmatis dan ilmiah - tetapi yang tidak mampu mengurangi atau mengangkat penderitaan dan kedukaan manusia, dan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang nilai yang ultima dari kehidupan manusia. Namun, bukannya malah sama sekali menolak penekanan modern dan menggantinya dengan keseimbangan yang lama, si pengarang berpendapat, kaum fundamentalis agama tanpa sadar telah mengubah mitos iman mereka menjadi logos. Fundamentalisme adalah anak dari modernitas, dan kaum fundamentalis pada dasarnya adalah orang modern.
Armstrong adalah seorang pakar agama-agama yang telah banyak menghasilkan berbagai tulisan mengenai berbagai agama. Ia melukiskan keyakinannya dalam sebuah wawancara di C-Span pada 2000:
“Biasanya saya menggambarkan diri saya, mungkin dengan bercanda, sebagai seorang monoteis freelance (=bebas). Saya menggali sumber keyakiinan saya dari ketiga-tiga iman Abraham. Saya tidak dapat melihat salah satu daripadanya memiliki monopoli terhadap kebenaran, masing-masing daripadanya mempunyai keunggulan dibandingkan yang lainnya. Masing-masing mempunyai geniusnya sendiri dan masing-masing mempunyai kelemahan dan tumit Achillesnya sendiri. Tetapi baru-baru ini saya menulis tentang kehidupan singkat (cerita) dari Sang Buddha, dan saya merasa terpesona oleh apa yang dikatakan beliau tentang spiritualitas, tentang yang ultima (=yang tertinggi, terpenting), tentang welas asih dan tentang perlunya membuang ego sebelum kita dapat berjumpa dengan yang ilahi. Dan, menurut pandangan saya, semua tradisi besar mengatakan hal yang sama dalam cara yang lebih kurang sama, meskipun dari permukaan tampak mereka berbeda-beda”.

B.   Isi Buku
Pada dasarnya kalau kita melihat kontens apa yang ditulis oleh Karen Armstrong pada bukunya “Muhammad Prophet For Our Time” sama saja dengan tulisan tentang sirah Nabawiyah pada umumnya yang ditulis oleh orang-orang Islam sendiri. Namun perbedaan yang nampak dalam tulisan Karen Armstrong ini adalah sebagai berikut:
1.    Ketika ia menjelaskan tentang kehidupan Arab Pra-Islam, ia menggunakan sebuah teori tentang kesukuan yang biasa ia sebut dengan istilah kaum nomadik (berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain). Kehidupan nomadik yang keras dan suram ini menyebabkan  banyaknya orang yang berebut untuk sesuatu yang sedikit. Karenanya ghazw (serangan untuk merebut harta) menjadi esensial bagi ekonomi badawah. Dalam menyikapi hal ini bangsa Arab pada waktu itu tidak ada yang menyalahkan akan kondisi ini dikarenakan ghazw merupakan fakta yang harus diterima. Makkah menurut Karen Armstrong merupakan sebuah kota yang makmur dikarenakan merupakan pusat perdagangan internasional dan para pedagang dan pemodalnya menjadi kaya. Namun begitu Makkah tidak dapat merubah kehidupan nomadik yang ada di sekitarnya meskipun masyarakat Makkah telah lama meninggalkannya. Oleh karenanya kehidupan di Makkah dan sekitarnya yang keras ini dapat menghasilkan sebuah konsep yang mereka sebut dengan muruwah yang berarti keberanian, kesabaran, ketahanan dari musuh-musuhnya untuk membalas terhadap pelanggaran yang dilakukan sebuah kelompok, melindungi anggotanya yang lemah, serta mempertahankan kehormatan suku.
2.    Makkah dapat menjadi makmur sehingga dapat membuatnya mampu merubah gaya hidup bermukim dikarenakan suku Quraisy berhasil mendapatkan monopoli atas perdagangan utara-selatan, sehingga mereka sajalah yang dibolehkan untuk melayani karavan-karavan asing dan mampu mengontrol aktivitas perdagangan di dalam Arab yang telah dirangsang oleh aliran masuk perdagangan internasional. Aktivitas perdagangan ini menyebabkan suku Quraisy menolak untuk terlibat dalam perang kesukuan dan mempertahankan posisi netral. Kemudian kemampuan mereka kaum Quraisy dalam merubah ritus-ritus keaagamaan di Makkah menyebabkannya pengukuhan sentralitas keagamaan di Arab.
3.    Karir Muhammad sebagai pedaganglah yang membuatnya dengan akurat meramalkan kegelisahan yang melanda kaum muda, yang merasa tidak nyaman dalam ekonomi pasar yang agresif ini.
4.    Di Arab pada masa itu terjadi kegelisahan spiritual sehingga terjadi perubahan pada ritus-ritus keagamaan. Oleh karenanya menurut Karen Armstrong Muhammad pergi melakukan ritual di goa adalah dikarenakan untuk mencari solusi baru. Dan pada saat sedang menyendiri di Gua Hira Muhammad mengalami visi yang mengejutkan dan dramatis. Kata-kata yang keluar seakan-akan dari kedalaman wujudnya menjangkau akar persoalan di Makkah.
5.    Ia berusaha untuk merasionalisasikan ketika Nabi Muhammad menerima wahyu dengan mengatakan bahwa ketika di Gua Hira Nabi mengalami visi mengejutkan dan dramatis dan kata-kata yang keluar seakan-akan dari kedalaman wujudnya, menjangkau akar persoalan di Makkah. Visi tersebut ialah ayat yang pertama turun yaitu surat al-‘Alaq ayat 1-5. Selanjutnya ia menceritakan:
“Ketika tersadar Muhammad begitu masygul memikirkan bahwa setelah semua usaha spritualnya, beliau ternyata dirasuki oleh jin sehingga tak lagi ingin hidup. Dalam keputusasaannya, beliau berlari dari gua dan mulai mendaki puncak gunung untuk melontarkan dirinya hingga mati. Tetapi beliau mendapatkan visi yang lain. Beliau melihat sosok yang besar yang memenuhi ufuk dan berdiri menatapnya tak bergerak ke depan maupun ke belakang. Beliau mencoba untuk menjauh, tetapi, katanya setelah itu, “Kea rah langit mana pun aku memandang, aku melihatnya seperti sebelumnya.” Itulah ruh wahyu yang belakangan disebut Muhammad sebagai Jibril. Ini bukanlah malaikat naturalistic yang cantik, melainkan sebuah kehadiran transenden kategori spasial dan manusiawi biasa.”

6.    Menurut Armstrong Muhammad pastinya setuju dengan apa yang dikatakan oleh sejarawan Jerman Rudolf Otto, dengan mendeskripsikan yang kudus sebagai sebuah misteri yang tremendum dan sekaligus fascinans: menggiriskan, mendesak, dan menakutkan, namun juga mengisi manusia dengan “kegembiraan, kebahagiaan, dan rasa harmoni yang meluas dan persentuhan yang intim”.
7.    Ia juga menjelaskan pendapatnya bahwa penolakan yang terjadi terhadap apa yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad terhadap orang-orang Quraisy dikarenakan  gaya hidup jahiliyyah yang ketika itu masih melekat dalam kalangan orang-orang Quraisy. Jahiliyyah yang ia gambarkan adalah mengandung makna “sifat lekas marah”: rasa kehormatan dan prestise yang tinggi, keangkuhan, keberlebihan, dan di atas semua itu, kecendrungan kronis kepada kekerasan dan pembalasan dendam.
8.    Kemudian ia menjelaskan bahwa dalam kasus Isra’ Mi’raj al-Quran tidak berpanjang lebar tentang penampakan ini. Dan Muhammad hanyalah melihat tanda-tanda dan simbol-simbol Tuhan bukan Tuhan itu sendiri, dan para mistikus belakangan menekankan paradoks penampakan transeden ini, yakni Muhammad melihat dan sekaligus tidak melihat esensi ilahi. Selanjutnya, ia juga menjelaskan bahwa al-Quran mengatakan Muhammad memperoleh penampakan di samping pohon bidara yang menandai batas terjauh pengetahuan manusia (sidratul muntaha).
9.    Perselisihan Muhammad dengan orang-orang Yahudi adalah tidak bersifat religious melainkan ekonomis dan politis. Posisi Yahudi pada saat itu di oasis itu telah memburuk, dan jika Muhammad berhasil menyatukan suku Aus dan Khazraj, mereka tidak akan berpeluang untuk meraih kembali supremasi mereka. Oleh karena itu, mereka berpandangan akan lebih bijak untuk menyokong Ibn Ubay dan para kaum Pagan Arab di oasis yang tetap menentang Muhammad.
10.                        Ia juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad pada dasarnya tetap berkeyakinan bahwa paham-paham yang aneh seperti paham keeksklusifan Yahudi dan Kristen dengan Tuhan itu ada tiga dan Yesus adalah putara Allah merupakan penyimpangan bid’ah oleh sekelompok minoritas yang tersesat.
11.                        Perang yang terjadi pada dasarnya adalah merupakan sebuah perasaan kaum Muslim yang merasa bahwa mereka telah mengalami serangan yang mengerikan; pengusiaran mereka dari Makkah merupakan tindakan yang tidak memiliki justifikasi. Pengasingan dari suku merupakan pelanggaran terhadap nilai kesucian yang terdalam di Arab; itu merupakan serangan terhadap inti identitas kaum Muslim.
12.                        Kemudian ketika ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad mencoba untuk memberi landasan etika bagi ghazw yang dilancarkannya, namun beliau tak memiliki pengalaman serangan militer yang panjang, dan bakal mendapat pelajaran bahwa jika sebuah siklus kekerasan telah dimulai, maka siklus itu akan mencapai momentum tak terduga dan bisa berkembang secara tragis di luar kendali. Dengan teori ini pada dasarnya ia ingin menjelaskan bahwa serangan ghazw (serangan harta) dengan kekerasan yang Nabi lakukan menjadi salah satu dimulainya siklus kekerasan perang yang terjadi antara Quraisy dan kaum Muslim.
13.                        Ia juga masih menggunakan kisah-kisah ayat setan atau gharaniq yang diriwayatkan dari at-Thabari dengan menyimpulkan bahwa Muhammad menggunakan kisah gharaniq itu hanya agar orang-orang Quraisy dapat memandang pesan yang disampaikannya dengan lebih bersahabat.
14.                        Kemudian ia juga menjelaskan bahwa para sejarawan Islam yang mengatkaan bahwa Abu Jahal lah yang mempengaruhi kaum Quraisy untuk berperang melawan kaum Muslim, namun menurutnya bahwa Abu Jahal pun pada dasaarnya tidak ingin berperang karena tergambar dari kata-kata Abu Jahal bahwa sebenarnya ia sendiri tidak mengharapkan sebuah pertempuran.
15.                        Ia juga menjelaskan bahwa adanya pengaturan rumah tangga Nabi dengan membawa istrinya dan para perempuan ke medan perang memberi para istrinya dan perempuan  askes baru kepada politik, dan mereka tampak cukup nyaman   di ranah ini. Tidak lama kemudian, kaum perempuan mulai merasa diberdayakan secara sama dengan laki-laki, dan musuh-musuh menggunakan pergerakan perempuan ini untuk mendiskreditkannya.
16.                        Kemudian dengan mengutip surat al-Ahazab ayat 35 ia mengatakan bahwa ada kesetaraan gender yang sepenuhnya dalam Islam: baik laki-laki maupun perempuan memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Ketika para perempuan mendenganr ayat ini, mereka bertekad untuk mewujudkan visi ini menjadi nyata di dalam kehidupan mereka sehari-hari.
17.                        Insiden Quraizhah menandai titik nadir karier Muhammad. Namun, penting dicatat bahwa suku Quraizhah tidak dibunuh atas dasar landasan agama atau rasial. Tak satu pun suku Yahudi di Arab yang keberatan atau berupaya turun campur. Mereka jelas memandang insiden tersebut sebagai masalah yang sepenuhnya bersifat politis dan kesukuan.
18.                        Bahwa tragedi Qurazhah sebenarnya bukan hal yang merupakan sesuatu keinginan yang diniatkan Nabi. Karena tujuan awalnya adalah untuk mengakhiri kekerasan Jahiliyyah, tetapi kini beliau bersikap seperti seorang kepala suku Arab yang biasa. Beliau terpaksa berperang demi meraih perdamaian akhir, akan tetapi pertempuran telah membuat serangan demi serangan balasan, pembantaian dan pembalasan dendam. Oleh karenanya, kemudian beliau menyadarinya sehingga harus menemukan jalan lain untuk mengakhiri konflik ini dengan meninggalkan perilaku Jahiliyyah yaitu peperangan.
19.                        Ia menjelaskan bahawa spirit kekritisan adalah dibutuhkan pada masa kini. Ia mengungkapkan bahwa sebagian pemikir Muslim memandang jihad melawan Makkah sebagai klimaks dari karier Muhammad dan gagal mencatat bahwa Nabi pada akhirnya mencela peperangan dan mengambil kebijakan non-kekerasan. Semantara itu para kritikus Barat berpandangan bahwa Nabi Islam adalah seorang penggemar perang, dan gagal melihat bahwa sejak dari awal sekali beliau menentang keangkuhan dan egotism Jahili yang bukan hanya menyalakan agresi pada zamannya, melainkan juga tampak nyata di dalam beberapa pemimpin, baik Muslim maupun Barat pada zaman sekarang. Nabi, yang tujuannya adalah perdamaian dan perbuatan baik, menjadi symbol perjuangan dan perpecahan (sebuah perkembangan yang bukan hanya tragis, melainkan juga berbahaya bagi stabilitas yang padanya masa depan umat manusia bergantung).
20.                        Karen Armstrong menyimpulkan bahwa jika kita ingin menghindari kehancuran, dunia Muslim dan Barat mesti belajar bukan hanya untuk bertoleransi, melainkan juga saling mengapresiasi. Titik berangkat yang baik adalah dari sosok Muhammad: seorang manusia kompleks yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh ideology yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil untuk kita terima, tetapi memiliki kegeniusan yang luar biasa dan mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang didasarkan bukan pada pedang, melainkan pada “Islam”, berarti perdamaian dan kerukunan.
C.  Metodologi Buku
Pada bukunya ini ia menggunakan sebuah metode penulisan sejarah yang bersifat naratif. Ia menguraikan secara naratif tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan model penulisan sejarah evolusi yang menceritakan dari masa pra-Islam sampai kepada wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dalam penulisannya ini juga ia membuat eksplanasi sejarah dengan kerangka teoritis seperti saat ia menjelaskan tentang suku-suku di Arab pra-Islam dengan teori nomadik.
D.  Kritik Terhadap Buku
Pada tulisannya tentang Nabi Muhammad ini dapat dilihat bahwa Karen Armstrong sangat simpatik terhadap Islam. Biografi Nabi Muhammad ini ia tulis pertama kali sebagai respon terhadap fatwa Ayatullah Khomeini terhadap Salman Rushdie. Hingga saat itu kebanyakan dari literartur Barat menggambarakan Muhammad entah sebagai orang suci yang sempurna atau sebagai penipu ulung. Amstrong memilih bersikap netral menghadapinya, Muhammad ia gambarkan sebagai seorang yang luar biasa berbakat, pemberani dan kompleks. Diperlihatkannya pula beberpa karakter dan ide-ide Nabi demikian kuat untuk mengubah sejarah secara drastic dan menarik jutaan pengikut. Meskipun dalam menulisnya ia tidak melakukan kritik sumber sehingga berpengaruh kepada analisa yang ia ungkapkan. Selain itu, latar belakangnya yang merupakan sastrawan di bidang sastra Inggris dan pengakuannya akan “freelance monotheist” . berikut beberapa catatan penulis:
1.    Seperti pada karya-karya umum dari para kalangan orientalisme yang sangat kuat untuk menanamkan pola imperialisme pemikiran Barat terhadap pemikiran Timur. Begitu juga dengan karya Karen Armstrong ini, meskipun secara yang tampak dalam karya-karyanya tentang Islam ia begitu simpatik namun pada dasarnya ia juga ingin menanamkan pola-pola pemikiran Barat terhadap pola-pola pemiiran Timur dengan berdiri pada pemikiran yang berdiri atas dasar rasionalisme dan pluralisme.
2.    Latar belakangnya sebagai seorang sastrawan Inggris membuat analisanya terutama yang berkaitan dengan kisah percintaan Nabi menggunakan analisa sastra Inggris. Seperti ketika ia menceritakan bahwa Ummu Salamah terpikat oleh Nabi dikarenakan senyumnya yang membuat Ummu Salamah terpikat. Juga ketika ia menceritakan tentang kisah Nabi dan Zainab yang ia tuturkan dengan gaya percintaan dalam kisah percintaan Nabi Daud dengan istrinya Uria.
3.    Buku ini ia tujukkan dan rancang untuk menarik pembaca sasarannya yaitu orang-orang Barat. Sehingga ia seringkali berusaha merasionalisasikan hal-hal yang bersifat irasional seperti ketika Nabi menerima wahyu yang ia gambarkan sebagai visi yang kuat.
4.    Dalam mengambil sumber data terutama hadits ia tidak melakukan sumber kritik yang memang sudah seharusnya dilakukan. Seperti ketika ia menceritakan penerimaan wahyu dengan menggunakan hadits yang dinisbatkan kepada Aisyah dan diriwayatkan oleh Bukhari padahal hadits ini menurut penulis sendiri memiliki musykil atau masalah pada sanad dan matannya.
5.    Selanjutnya ia juga menggunakan kisah ayat setan (gharaniq) yang sudah tidak digunakan oleh para sejarawan Islam kontemporer dikarenaknan ketidak jelasan sumbernya.
Meskipun begitu, buku ini juga memiliki kelebihan karena dalam menjelaskan kisah Nabi Muhammad SAW ia menggunakan kerangka teoritis yang baik dalam menggunakan penjelasannya sehingga dapat mudah dipahami dengan baik, lain seperti kebanyakan para penulis sejarawan dari kalangan Islam.


Selasa, 15 November 2011

Motivasi

Life Story

Sebuah kehidupan dirasakan seperti pola siklus yang terus berputar dan kita tidak tahu kapan kita berada diatas dan sampai kapan kita tetap diatas. Teori ini sangat populer dengan menjelaskan example yang memang takpernah jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, apakah dalam tiap kejadian ataupun peristiwa yang dialami, kita sebagai manusia tidak mampu meyadari bahwa kita sedang menaiki tangga kehidupan untuk mengejar cita-cita yang kita inginkan !!!
Andai kita memang mengelilingi siklus kehidupan, mengapa manusia ada yang terjebak dalam kemiskinan dan takmampu untuk berada pada siklus kehidupan yang lebih layak. Kita seolah diposisikan pada ketidakberdayaan, diposisikan pada kepasrahan bahwa kita tidak bisa mengubah siklus kehidupan kita. Siklus kehidupan dimana diartikan hidup bagaikan Roda yang berputar dan kita sebagai objek roda tersebut, ketika kita diatas maka kita akan berjaya dan ketika kita dibawah maka kita akan terpuruk dan menanti tibanya siklus kehidupan yang akan memutar kehidupan kita lagi. Secara Rasio, adakah kemungkinan Manusia mampu memutar siklus kehidupan nya sendiri jika dia hanya mengartikan bahwa hidup bagaikan Roda yang terus berputar. Tentu ada sebuah gerakan perubahan dalam diri manusia untuk memutar siklus tersebut jika memang dia sadar bahwa manusia tidak akan seperti sekarang ini jika bukan karena dirinya sendiri.
Oleh sebab itu saya tekankan bahwa Teori tersebut bisa digunakan dalam kehidupan namun berpikirlah bahwa hidup manusia adalah pilihan bukan tuntutan. Manusia yang miskin bukan berarti dia harus selama nya miskin, karena dia punya hak untuk memilih menjadi manusia yang kaya. Dan Oleh sebab itu sekali lagi saya tekankan, bergeraklah menuju cita-cita kita untuk menjadi lebih baik. Manusia tidak akan berubah jika bukan dia yang mengubah dirinya sendiri, siklus kehidupan tidak bergerak secara sendirinya. Sadarlah bahwa kita bisa mengubah hidup kita untuk menjadi lebih baik.
Jadilah motivator buat diri sendiri, buat keluarga, dan buat orang lain.
Jika bukan anda yang mengubah hidup anda, siapa lagi ?!
Terima, Maafkan, dan bergerak untuk maju kearah yang lebih baik jika kamu sedang ditimpa tantangan.
Terima, Hargai, dan berilah Pujian jika kamu ingin menjadi seorang yang diTuakan dan menjadi Inspirator bagi yang lain.
Akhir kata, Hidup adalah perjuangan, jangan berhenti karna tantangan, terus bergerak walau hanya tertatih, karna hidup adalah perjuangan.
Assalamualaikum Wr. Wb.

Hendra Gunawan

Review Buku


Nama   : Hendra Gunawan (1120510077)
Tugas Review

Rudolf Mrazek, Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni.

A.    Ulasan Buku
Buku Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni yang ditulis oleh Rudolf Mrazek ini merupakan buku Sejarah yang menggunakan pendekatan berbeda dari sejarawan biasanya. Kalau Voltaire pernah berkata bahwa fakta-fakta sejarah yang bersifat mikro dan yang tidak membawa kepada suatu tujuan, merupakan beban rintangan belaka bagi sejarah bagaimana barang akut merupakan beban bagi tentara. Namun, pandangan kini berubah fakta-fakta kecil yang dipandang dari sudut pandang sejarah yang luas bukanlah hal yang palsu dan kabur justru sejarah kecil ini lebih dekat dengan kehidupan. Jarak yang tipis itulah membuat sejarah mudah untuk dipahami dan menjadi bagian dalam kehidupan manusia keseharian. Micro history menjadi catatan yang penting dalam sejarah. Bahkan hal yang nampak remeh bisa menjadi catatan sejarah yang sangat berarti. Dari catatan yang kecil-kecil seperti yang ditulis Rudolf Mrazek ternyata mampu membentuk nasionalisme, dan memepengaruhi perubahan sosial.
Pada bab pertama MRazek melihat Pembangunan jalan aspal antara 1808 dan 1818, sebuah proyek raksasa untuk melawan Inggris. Jalan Raya Pos Daendels menembus dari Barat sampai ke Timur Jawa digunakan sejak awal abad kesembilan belas.  Selain proyek ‘Napoleonik” menggenai pengaspalan baja-baja mulai dirakit dengan skrup-skrup menjadi jalur-jalur kereta api menembus Jawa. Tidak ada kesulitan dalam proyek ini, Mrazek melihat dari keterangan majalah Kopiist majalah pertama yang terbit di Hindia Belanda, keterangan yang didapat bahwa penduduk dapat melakukan pekerjaan pemindahan tanah dan pemecahan batu untuk pembangunan jalan tanpa biaya atau dibayar dengan beras dan garam. Untuk membangun jalur rel-rel utama, Kopiist menghitung menelan biaya hanya 8.704.080 gulden, dan jalur-jalur samping 3.215.520 gulden, untuk total 11.919.600 gulden, 2 juta gulden untuk kendaraan dan gudang, satu juta untuk membayar bunga. Yang menarik kala itu disimpulkan bahwa penduduk bumiputra yang dianggap kelas bawah lebih berantusias naik kereta api dari pada kelas bangsawan yang lebih suka berdiam diri di rumah. Menurut catatan disepanjang jalur kereta api inilah partai-partai komunis berkembang, tentulah kita inggat pada tahun 1923 timbul pemogokan pekerja kereta api di Semarang, pemogokan terbesar sepanjang sejarah penjajahan Belanda. Dari kelancaran jalan, makin meningkatlah jumlah kendaraan dan meningkatkan kemacetan serta kecelakaan. Berawal dari sinilah berkembang semacam pengenalan diri, kepercayaan diri dan harga diri dengan membentuk nasionalisme yang bergerak dari jalan-jalan modern dengan lahirnya perserikatan sopir-sopir dengan angota terbanyak dari orang bumiputra.
Pada Bab II MRazek lebih melihat perkembangan pemukiman penduduk dimana kepadatan merupakan masalah besar di Hindia Belanda. Banyaknya bangunan-bangunan megah berdiri ditengah kota dan bangunan ini di ibaratkan sebagai bangunan yang telah berjangkar dan menetap disuatu tempat, sehingga kepadatan tidak bisa dibendung lagi. Kesadaran akan perlunya inovasi baru untuk menanggulangi kepadatan dilakukan oleh penguasa kolonial dengan melirik sebuah bangunan yang mampu berpindah-pindah. Kemudian terciptalah suatu rumah diatas roda-roda, termotivasi dengan budaya yang suka berpindah dan merupakan makna hidup yang luas, sebuah gaya hidup yang disebut het lelijke tijd (zaman wagu).
Dari perkembangan arsitektur bangunan ini, Penduduk pribumi khususnya jawa juga banyak mengikuti bangunan eropa hindia belanda. Sehingga perkembangannya tercipta kota-kota besar yang lebih melihat bangunan dari keteraturan dan kesempurnaannya yang melihat perlunya perairan yang sempurna. Sebab akibat urbanisasi, pemukiman rakyat awalnya tidak lagi melihat keteraturan, dimana hanya membangun bangunan tempat berdiam dan tidak ada kamar mandi, toilet (WC) dan kamar keperluan lainnya.
Diabad-abad berikutnya, sewaktu belanda mulai merasa lebih betah bermukim, maka berkembanglah gaya-gaya kolonial yang membangun bangunan-bangunan dengan pekarangan luas, pengaturan air yang teratur deegan cadangan air bertekanan udara yang memungkinkan pemilik rumah untuk merancang sebuah kamar mandi dan WC dengan cadangan dan tataletak air yang menakjubkan. Dalam sistem cadangan air bertekanan udara itu, air bersih dipompa dari sumur dipaksa masuk kepenampungan air dan kemudian didistribusikan untuk seluruh rumah.
Pada Bab III MRazek melihat perkembangan daerah dari kegelapan menuju kota yang terang benderang. Bab ini mengulas teknologi yang membantu kerja indra penglihatan manusia. Teknologi optik dan kaca, juga fotografi dan daktiloskop, serta perluasan jaringan lampu listerik, semua ini tak cuma menawarkan keluasan penglihatan, tapi juga kedalaman penyelidikan. Kegelapan dan kekaburan yang dulunya abadi, mulai terusir bersama datangnya perspektif dan sudut pandang baru. Keinginan untuk melihat secara lebih tajam dan terang benderang ini, dibuka dengan kupasan empat buah buku yang terbit di Hindia Belanda.

Buku pertama adalah karya R.A. van Sandick, In het Rijk van Vulcaan: de uitbarsting van Krakatau en hare gevolgen, “Di Kekaisaran Vulkan: Ledakan Krakatau dan Akibat-akibatnya.” Dari bestseller yang bercerita tentang kegelapan dan bencana yang menyelimuti Nusantara akibat letusan gunung vuklanik itu, Mrazek masuk ke bestseller lain karya F. Wiggers, Fatima. Thriller ini mengisahkan pembunuhan seorang janda kembang, tetapi Mrazek lebih banyak memumpunkan perhatian pada kehadiran cahaya dalam pencegahan kejahatan dan pengungkapan kasus pembunuhan tersebut. Dua buku lain yang bukan bestseller tapi dianggap gema dari jaman yang menjelang tiba, diangkat Mrazek selanjutnya. Buku-buku itu adalah novel Louis Couperus, De Stille Kracht, “Daya yang Sembunyi” dan buku Kartini, Door duisternis tot licht, yang lebih terkenal sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Harapan dan obsesi terhadap cahaya, memperlihatkan perwujudan yang ganjil dalam masyarakat kulit putih di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial memang membangun jaringan tenaga listerik. Tetapi karena ditata menurut standar Eropa yang paling sempurna dan mewah untuk membentengi kenyamanan kaum kulit putih, dan tidak disesuaikan dengan kondisi demografis koloni itu, harga tarif listerik di Hindia Belanda menjadi yang paling mahal di seluruh planit Bumi.

Bukan hanya cahaya yang memperjelas penglihatan manusia, tapi juga binokuler, teleskop dan teodolit. Dengan perangkat-perangkat optik ini, orang-orang di Hindia Belanda melihat dunia dan dirinya, sekaligus mengukur dan memetakannya. Kadang-kadang mereka memetakan dunia secara surealistik, mendahului kaum pembaharu di Benua Eropa. Sejumlah orang di Hindia Belanda, karena terpukau oleh kekuatan teknologi optik, mencoba juga menjangkau kekuatan itu dengan cara yang lucu. Mereka memasang di parasnya kaca mata palsu yang justeru bisa merusak mata. Tetapi yang paling layak catat adalah digunakannya teknologi optik bersama berbagai teknik perekaman untuk tak hanya memperluas penglihatan, tetapi terutama memperkuat pengawasan. Hindia Belanda pun berubah jadi sebuah Rumah Kaca, dimana penguasa bahkan bisa menyidik dan mengintip masuk ke palung sukma kaum pribumi.
Pada Bab IV dengan tema para pesolek Indonesia, MRazek memulai penulisannya dengan melihat Boneka yang akan dipersembahkan kepada Ratu Belanda. Bab ini menyajikan kajian segar tentang bagaimana penduduk Hindia Belanda mendandani dirinya; menyatakan diri sekaligus membedakan diri dari yang lain. Pernyataan diri itu mula-mula dikaji Mrazek lewat boneka. Sebuah koleksi yang terdiri dari sekitar 150 boneka orang-orang pribumi yang dibuat oleh perempuan-perempuan terhormat di Hindia Belanda, dipersembahkan kepada Ratu Belanda. Koleksi ini menghadirkan berbagai kelompok etnik dan lapisan sosial. Mula-mula kaum pribumi, dalam hal ini senimannya, perlu dibantu dalam merepresentasikan diri dan kaumnya. Seniman pribumi ini piawai membentuk wayang: boneka berdimensi dua. Tetapi mereka tak terbiasa membuat boneka realistis berdimensi tiga. Bantuan kaum kolonialis terhadap representasi kaum pribumi itu berjalan bersamaan dengan miniaturiasai, inventarisasi dan pengawasan, yang akhirnya diikuti oleh pendisiplinan Foucauldian kaum pribumi.
Dari realisme boneka, Mrazek bergerak ke realitas berbusana kaum kulit putih yang selain mempertegas ketidaknyamanan mereka di koloni ini, juga mempertegas keinginan mereka untuk membedakan diri. Jika kaum pribumi berpakaian serba longgar dan tampak acak-acakan, bahkan nyaris telanjang, kaum kolonial berbusana dengan ketat, formal dan serba putih seakan siap untuk berperang. Mereka selalu tampak siaga atas ancaman, baik dari wabah, maupun pemberontakan. Busana kaum kulit putih adalah busana yang menciptakan jarak dan hirarki.
Mode, kesadaran busana yang sangat sadar-waktu sebagai bentuk pernyataan diri, mungkin memang berkerabat dekat dengan modernitas. Di Hindia Belanda, kesadaran berbusana itu sangat rapat dengan bangkitnya nasionalisme, dengan hasrat untuk sejajar dengan kaum kulit putih sekaligus lepas dari cengkramannya. Busana tokoh awal pergerakan seperti Mas Marco dan tokoh-tokoh utama angkatan 28 seperti Bung Karno dan Syahrir menghadirkan semangat itu. Dengan berubahnya dinamika politik kolonial dan naik turunnya pergerakan kebangsaan, busana dan penampilan para tokoh juga berubah. Mrazek mengikuti perubahan itu dan menghadirkan banyak cerita tentang tubuh, aspirasi dan pernyataan diri.
Pada Bab V Mrazek lebih fokus terhadap perkembangan telekomunikasi. Bab berjudul “Mari Jadi Mekanik Radio” ini, bergerak dari sejumlah hal yang berkait dengan penyebaran suara, masuk ke bentuk-bentuk teknologi komunikasi kabel dan nirkabel, hingga kerinduan akan hening ketika udara dibuat sesak dan cemar oleh suara-suara bising. Memang, pada mulanya ada semacam kebutuhan untuk menjadi saling dekat dengan dunia luar, dengan Eropa. Hindia Belanda, betapapun memandang dan menyimak Barat  sebagai sumber modernitas sekaligus kecemasan mereka. Sementara itu, Barat, khususnya Belanda, mengawasi dan memerintah Timur, termasuk pulau-pulau di Nusantara, sebagai penjamin kejayaan sekaligus sumber rasa tak nyaman mereka.
Kemunculan kolonial tak terelakkan menjadi medan pertarungan aspirasi kolonial dan aspirasi kebangsaan. Seperti halnya rasa revolusi yang mulai menggumpal, harapan dan luka dari pergerakan kebangsaan tak hanya terkonsentrasi pada jalan beraspal dan rel kereta, tapi juga terlantun lewat jaringan nir kabel. Kemunculan kolonial itu sekaligus juga jadi medan pertarungan antara kekuatan-kekuatan yang berhadapan di Eropa.
Bab ke-5 ditutup dengan dua kutipan dari dua jurnal milik kaum pergerakan: Kebudayaan dan Masyarakat, dan Soeloeh Indonesia Moeda. Kutipan pertama berisi ajakan untuk menjadi ahli mekanik radio agar bisa, dengan fasih, menyatakan diri ke kancah dunia. Kutipan kedua berisi ramalan akan datangnya revolusi kemerdekaan dimana imperialis terakhir dibayangkan “tampak” bukan lagi dalam radio tapi benar-benar terlihat dalam televisi tengah menggulung kejayaan kolonialnya.
Bab terakhir berjudul “Hanya Si Tuli yang Bisa Mendengar Jernih.” Bab ini berpusar pada tokoh yang tak jelas riwayatnya sebagai insinyur tetapi sangat lantang menggemakan modernitas dan nasionalisme. Tokoh ini membangun kebangsaan Indonesia bukan dengan perangkat mekanik tapi dengan piranti linguistik: dengan novel, cerita pendek, telaah dan surat-surat. Pramoedya Ananta Tour jelas bukan insiyur dalam pengertian akademik. Ia memang pernah bercita-cita jadi insinyur teknik, tetapi pendidikannya mentok hanya sebagai siswa Sekolah Teknik Radio di Surabaya.
Dalam riwayat Pram, dan kejadian-kejadian yang menimpanya di pembuangan, Mrazek menghadirkan contoh hidup pergulatan sebuah bangsa yang luka parah meraih kemerdekaannya. Kebesaran Pram memang tak tumbuh dari keadaannya sebagai korban yang inosen, dengan ingatan yang selektif, kepala yang mengeras dan telinga yang rusak ditumbuk popor. Epilog ini membawa pembaca “melompat” ke masa kini, ke masa senja Pram yang merenungkan gerak waktu; dan dengan itu menerawang kembali seluruh bab sebelumnya, dari konsolidasi kolonial hingga terbitnya kemerdekaan. Kali ini kemerdekaan spiritual.
Akhirnya memang dalam membangun bangsa, yang paling penting bukanlah sains dan teknologi, tetapi sebuah jiwa yang merdeka dan penuh martabat. Teknologi tentu tak bisa langsung merekayasa jiwa manusia, tetapi ia bisa membantu jiwa yang merdeka itu: menjadi ekstensi dari indra, otot dan ingatan. Tanpa jiwa yang merdeka, teknologi hanya menelurkan banyak hal yang menggelikan, juga menyedihkan, cerminan pikiran dan sukma pemakainya. Rasa tak aman sekaligus tak nyaman sebagian besar orang Eropa di Hindia Belanda membuahkan banyak arsitektur, tatabusana atau jaringan lampu penembak cahaya yang terlihat ganjil.
Kegamangan dan konservatisme kolonial, seperti halnya kegamangan dan konservatisme politik-kultural sebagian besar mereka yang telah merasakan kemerdekaan, membuat kemungkinan-kemungkinan teknologis sungguh tak bisa sepenuhnya memerdekakan manusia. Penjajah Belanda dan Jepang barangkali sudah hengkang, sudah gulung tikar. Tetapi, ketaknyamanan, kegelisahan dan ilusi penguasa pribumi, kegagapannya mengelola transformasi dan kekerdilannya mengurus organisasi besar berskala, mereka menyebutnya “Indonesia Raya”. Sehingga membuat represi, diskriminasi dan perilaku fasis-otoriter yang dulu dikembangkan Belanda dan Jepang, kembali tampil di era kemerdekaan.

B.     Teori Perubahan Sosial
Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam masyarakat. Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi interaksi antarmanusia dan antarmasyarakat. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti perubahan dalam unsurunsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Adapun teori yang digunakan dalam tulisan Mrazek untuk menjelaskan mengenai perubahan sosial adalah Teori Evolusi. Dimana Teori Evolusi menggambarkan perkembangan masyarakat, pertama, yaitu teori evolusi mengganggap bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah seperti garis lurus. Masyarakatnya berkembang dari masyarakat primitif menuju masyarakat maju. Kedua, teori evolusi membaurkan antara pandangan subjektif tentang nilai dan tujuan akhir perubahan sosial. Perubahan menuju bentuk masyarakat modern, merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Oleh kerena itu masyarakat modern merupakan bentuk masyarakat yang dicita-citakan.
Tulisan Rudolf Mrazek dalam bukunya Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi di Sebuah Koloni. Tulisan Mrazek ini ingin menunjukan adanya penanda modernisasi dalam masyarakat Hindia Belanda. Kata-kata teknologi yang digunakan lebih mengacu pada sekumpulan budaya, identitas dan bangsa. Orang-orang di Hindia Belanda, baik orang Indonesia maupun orang Belanda yang ada di Indonesia merasa canggung dengan teknologi-teknologi baru. Ketika menjumpai teknologi-teknologi yang tidak seperti biasanya, orang-orang Hindia Belanda seringkali bergerak, berbicara, dan menulis dengan cara memasuki perilaku dan bahasa mereka.
Penanda-penanda yang digunakan oleh Mrazek dalam menangkap modernisasi di Hindia Belanda adalah dengan adanya penggunaan (pemaksaan masuknya) teknologi baru. Pada bagian pertama diawali dengan dibukanya jalur-jalurjalan yang menghubungkan daerah penghasil ekonomi dengan transit-transit barang. Jaringan jalan terutama darat menjadi penanda penting dimulainya penguasaan wilayah. Kemudian bagian berikutnya dibahas tentang gedung-gedung dengan fungsinya masing-masing. Secara radikal, ini merupakan hal yang baru dalam bentuk arsitektur di Hindia Belanda. Pada bagian ini ingin menunjukkan adanya teknologi baru dalam hal arsitektur, perencanaan kota, tempat tinggal maupun tempat usaha.
Bagian ketiga memuat tentang bagaimana teknologi optik menjadi sebuah budaya baru dalam merekam peristiwa. Foto-foto kemudian menjadi barang yang mulai digemari untuk menjadi bahan kenangan. Kemudian bagian berikutnya membahas tentang masuknya teknologi pleasure untuk kenyamanan sehari-hari berupa penggunaan alat-alat elektronik yakni rado, telepon, dan alat-alat komunikasi lainnya. Sedangkan pada bagian akhir ditutup dengan epilog dari serangkaian masuknya teknoloogi-teknologi baru tersebut bagi masyarakat. Sebuah tindakan budaya yang kemudian akan mencerminkan tindakan-tindakan manusia modern. Pada akhirnya keberadaan teknologi baru ini akan mebuat semangat baru bagi masyarakat Indonesia. Gagasan dan gerakan nasionalisme muncul kepermukaan dalam bentuknya sendiri.

Hendra Gunawan